Para pembicara Konferensi Keberlanjutan ke-9 (The 9th Sustainability Practitioner Conference - SPC) di Universitas Maranatha, Bandung, Kamis (24/10/2024). | 6/11/2024 1:19 pm, by ICSP Editor

BANDUNG, investro.id – Institute of Certified Sustainability Pracititions (ICSP) dan National Center for Corporate Reporting (NCCR) bersama Universitas Kristen Maranatha dan Universitas Katolik Parahyangan menggelar Konferensi Keberlanjutan ke-9 (The 9th Sustainability Practitioner Conference – SPC) di Universitas Maranatha, Bandung, Kamis (24/10/2024).

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pentingnya aspek keberlanjutan dan mendukung penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan pengembangan praktik keberlanjutan.

Konferensi yang diselenggarakan secara hybrid ini membahas sejumlah strategi berkelanjutan yang disesuaikan untuk UMKM dalam mendukung pertumbuhan berkelanjutan Sustainable Development Goals (SDGs) yang merupakan bentuk komitmen global dan nasional dalam upaya menyelamatkan bumi dan menyejahterakan masyarakat.

Sebab, UMKM memegang peranan vital dalam pencapaian beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam pengurangan kemiskinan (SDG 1), peningkatan kesejahteraan (SDG 2), serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan (SDG 8).

Ketua The National Center for Corporate Reporting (NCCR), Ali Darwin mengatakan, UMKM memiliki potensi sebagai pendorong yang kuat dalam keberlanjutan. Menurut Ali, UMKM memiliki keluwesan dalam beradaptasi, fokus pada komunitas, efisiensi sumber daya, peluang pasar, sehingga mampu merangkul praktik keberlanjutan seiring SDGS. 

“Dengan merangkul praktik berkelanjutan, UMKM tidak hanya dapat meningkatkan dampak lingkungan dan sosialnya tetapi juga meningkatkan daya saing dan kelangsungan jangka panjangnya,” kata Ali.

Pada kesempatan yang sama, Ni Made Roni, pemilik Made Tea Bali, memaparkan bagaimana praktik berkelanjutan diterapkan pada bisnisnya yang bergerak di bidang tisane (teh herbal).

Ia mempekerjakan 200 ibu rumahtangga dari 8 desa di Bali. Selain itu Ni Made Roni juga telah menggunakan solar panel sebagai energi memproduksi teh buatannya.

Sebagai “Spesialis Tisane Indonesia yang Berkelanjutan,” ia menunjukkan bahwa praktik ramah lingkungan dan berkelanjutan tidak hanya bermanfaat bagi bumi tetapi juga membantu memperkuat posisi bisnis di pasar, karena tren konsumen saat ini juga menuntut produk yang ramah lingkungan.

Ini mencerminkan tren global, bahwa semakin banyak UMKM yang mengadopsi prinsip keberlanjutan sebagai bagian integral dari model bisnis mereka, membantu menciptakan dampak positif dan tetap kompetitif.

Namun, meskipun potensinya menjanjikan, Ali mencermati adanya sejumlah tantangan umum yang menghambat UMKM dalam praktik keberlanjutan. Antara lain; Terbatasnya akses keuangan, kurangnya kesadaran mengenai praktik keberlanjutan, dan peraturan lingkungan yang kompleks.

Terkait sejumlah tantangan yang Tengah dihadapi para pelaku UMKM, Ketua Bidang UMKM Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Ronald Walla memaparkan hasil riset Apindo menemukan 78% perusahaan kecil mengalami kerugian karena persyaratan kepatuhan lingkungan dan emisi GRK yang terlalu tinggi.

“Selain itu, 69% pelaku UMKM di Indonesia belum mengetahui atau tidak memahami Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),” kata Ronald. 

Dalam konteks ini, pemerintah memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung bagi UKM untuk berkembang. Ini termasuk menawarkan insentif keuangan, menyediakan akses ke informasi dan sumber daya, dan menyederhanakan peraturan yang mempromosikan keberlanjutan tanpa membebani.

Inisiatif seperti program pengembangan kapasitas, pelatihan keberlanjutan, dan hibah untuk teknologi hijau sangat penting untuk memberdayakan UKM guna mencapai tujuan lingkungan dan sosial mereka.

Karena itu, kegiatan SPC menjadi sarana untuk berbagi ide, pengalaman, serta praktik terbaik dalam upaya mencapai keberlanjutan dari segi kebijakan publik maupun sektor bisnis.

Konferensi ini juga berfungsi sebagai jembatan untuk mengembangkan solusi inovatif yang kolaboratif dan berbasis penelitian dalam menghadapi tantangan-tantangan keberlanjutan.


Sumber: https://investor.id/business/378091/umkm-didorong-praktikkan-aspek-keberlanjutan

Categorised in . Submitted by ICSP Editor

CSRS+

The Certified Sustainability Reporting Specialist (CSRS) is one of the world’s premier and oldest assessments to promote and build sustainability skills, providing confidence and overall standards to help businesses, governments, and NGOs develop the best practice in sustainability management.

Learn More

CSRA

Certified Sustainability Reporting Assurer (CSRA) is a professional training program intended for sustainability and assurance practitioners. The program aims to enhance participants’ technical understanding and practical capabilities in conducting sustainability report assurance based on the GRI Standards and ISSA 5000, covering verification of sustainability performance, controls, and reporting processes.

Learn More

CSFS

The Certified Sustainability Financial Specialist (CSFS) Certificationis based on the International Sustainability Standards Board (ISSB) Standards, specifically IFRS1 and IFRS2, which aim to establish a global baseline for sustainability disclosure requirements.

Learn More

  PARTNERS

The National Center for Corporate Reporting (NCCR), formerly known as the National Center for Sustainability Reporting (NCSR), was established in 2005 to support the development of sustainability competencies in Indonesia. NCCR continues to align its programs with global sustainability developments and is recognized as a GRI Certified Training Partner and the IFRS Sustainability Alliance. NCCR organizes an annual sustainability reporting assessment, now known as the Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT), which serves as a platform to promote transparency, accountability, and excellence in sustainability reporting.

ESG Academy is an affiliated company of the National Center for Corporate Reporting (NCCR) that supports organizations and professionals in integrating sustainability into business strategy. Through knowledge sharing and capacity building on Environmental, Social, and Governance (ESG) principles, SG Academy strengthens the capacity of stakeholders to navigate the transition toward sustainable business practices and long-term value creation.

Perkumpulan Assurer Profesional Indonesia (PAPI) is an independent professional organization representing sustainability report assurers in Indonesia, with a strong commitment to integrity, competence, and the quality of assurance practices. Founded in November 2025, PAPI emerged in response to the growing need for reliable assurance of sustainability information. The development of regulations, increasing market expectations, and demands for transparency have reinforced the importance of assurers who possess strong competencies, multidisciplinary understanding, and a high level of independence.

If you have further question, please do not hesitate to contact us.