Acara Sustainability Practitioner Conference (SPC) | 27/10/2025 3:20 pm, by ICSP Editor

JAKARTA, Investor.id – Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai bisa menjadi motor ekonomi hijau dan keberlanjutan. Artinya, AI kini bukan sekadar alat organisasi atau perusahaan untuk meningkatkan efisiensi.

Hal itu mencuat dalam Sustainability Practitioner Conference (SPC) bertema “Sustainability in the Age of Artificial Intelligence (AI)” yang digelar Institute of Certified Sustainability Practitioners (ICSP) dan National Center for Corporate Reporting (NCCR). Pada tahun ke 10 ini, SPC diselenggarakan di Malang, Jawa Timur, bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya (Kamis, 23/10/2025).

Melalui diskusi panel, peserta diajak mengeksplorasi pendekatan strategis dalam memanfaatkan teknologi digital, khususnya AI demi tercapainya keseimbangan antara inovasi, efisiensi, dan tanggung jawab sosial ingkungan.

Direktur Eksekutif NCCR Ali Darwin memaparkan konsep dasar keberlanjutan dan keterkaitannya dengan perkembangan teknologi digital. Fungsi AI saat ini bergeser dari alat efisiensi menjadi solusi aktif untuk masalah ekonomi, lingkungan, dan sosial.

“Dengan kemampuannya mengolah miliaran data dari seluruh dunia, AI membantu kita menemukan cara paling efisien untuk menghemat energi dan mengurangi jejak karbon. Lebih dari itu, AI mampu memproyeksikan masa depan iklim dan mengantisipasi risiko sebelum bencana benar-benar terjadi. Hal ini memberi kita peluang bertindak sebelum terlambat,” kata Ali, dikutip Senin (27/10/2025).

Ali menyebut, transformasi digital dan kecerdasan buatan kini menjadi dua kekuatan besar yang membentuk masa depan ekonomi global. Namun, kemajuan tersebut harus diimbangi dengan tanggung jawab etis, sosial, dan ekologis. 

“Teknologi hanyalah sebaik nilai-nilai yang menuntunnya. Dengan pendekatan yang berkelanjutan, AI dapat menjadi motor penggerak bagi ekonomi hijau dan pembangunan yang lebih adil,” kata Ali.

Koordinator Ekosistem dan Ruang Digital Kementeriaan Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Andreas Bondan Satriadi mengungkapkan, pemanfaatan AI untuk transformasi ekonomi Indonesia diprediksi memberikan kontribusi potensial senilai US$ 366 miliar terhadap PDB Indonesia tahun 2030. 

“Potensi pertumbuhan ekonomi melalui pemanfaatan teknologi menunjukkan bahwa AI dan teknologi baru bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan telah menjadi bagian integral dari upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan mencapai 8% pada tahun 2029,” ujar Andreas.

Head of Smart City and Community Innovation Center ITB Suhono Harso Supangkat  memberikan Gambaran bagaimana AI sebetulnya dapat dimanfaatkan untuk mendorong keberlanjutan suatu daerah. Melalui kota pintar (smart city), penggunaan AI dapat melahirkan evolusi sebuah kota menjadi kota kognitif.

Ketua Dewan Pengurus ICSP Sylvia Veronica menilai, penggunaan AI dapat menjadi peluang bagi semua pihak untuk berkontribusi dalam pencapaian target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainability Development Goals (TPB/SDGs).

“Sesungguhnya, kecerdasan buatan telah mulai mengubah lanskap keberlanjutan. Teknologi ini memungkinkan kita memprediksi kebutuhan energi, memantau emisi secara real-time, mengoptimalkan rantai pasok, serta menganalisis data lingkungan dan sosial dalam skala yang sebelumnya tak terbayangkan,” kata dia.


Sumber berita : https://investor.id/business/414937/ai-motor-ekonomi-hijau-dan-keberlanjutan

Categorised in . Submitted by ICSP Editor

Institute of Certified Sustainability Practitioners (ICSP) is an organization for Sustainability Practitioners. Established to educate professionals preserving natural and social capital resources by using principle professional guidelines.

Learn More

  PARTNERS

The National Center for Corporate Reporting (NCCR), formerly known as the National Center for Sustainability Reporting (NCSR), was established in 2005 through the initiative of government bodies, corporations, and distinguished individuals who recognized early on the importance of developing sustainability competencies in Indonesia.

In 2007, the Government of Indonesia introduced regulatory requirements for certain private and public corporations to undertake sustainability initiatives and disclose their sustainability performance. This regulatory development further strengthened the relevance of NCCR’s role in advancing sustainability reporting practices in the country.

Since its establishment, NCCR has continuously aligned its programs with global sustainability developments. It is recognized as a GRI Certified Training Partner and GRI Data Partner, demonstrating its commitment to internationally accepted sustainability reporting standards.NCCR has also organized the Indonesia Sustainability Reporting Awards annually since 2005, which is now known as the Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT), serving as a platform to promote transparency, accountability, and excellence in sustainability reporting.

If you have further question, please do not hesitate to contact us.